GMBI Punggelan dan Tokoh masyarakat Desa Tlaga Gelar Audensi di Kantor Desa Tlaga Terkait Dugaan Penyelewenga Dana Desa

 

Foto : Ormas Ormas GMBI KSM Punggelan bersama tokoh masyarakat Desa Tlaga

Banjarnegara wartaindonesianews.co.id -- Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMB) KSM. Punggela bersama tokoh masyarakat gelar Audensi program ketahanan pangan yang di duga dananya di selewengkan oleh Oknum Pemdes, Senin (04/09/2023).


GMBI dan tokoh merasa kecewa dalam audiensi tersebut karena tidak di temui oleh Kadesnya, cuman di temui oleh perangkat desa Tlaga saja.


Ketua GMBI KSM. Punggelan Selamet Wahyudin menuturkan kepada awak media kami mengetahui ada indikasi penyelewengan dana  Desa di Desa Tlaga ini melalui tim kami yang investigasi di lapanga.

Bahwa di Desa Tlaga ada dana ketahanan pangan yang tidak transparan dalam penyampai kepada publik, dan hari ini kami dengan tim di samping audensi juga kroscek ke lapangan.


Teryata Tidak sesuai dengan dana yang di anggaran untuk ketahanan pangan tersebut, seperti kolam ikan dan kambing.


Dan kami sudah minta data tersebut tapi sampai saat ini belum dikasih, bahkan dari salah satu Perangkat Desa bilang bahwa data tersebut tidak boleh dikasihkan kepada siapapun oleh Kades.

Dan ini sudah melanggar undang-undangan karena semuanya harus penuh keterbukaan agar supaya publik tahu, hingga warga masyarakat memahami tentang penggunaan dana Desa. 


Dan jika tetap tidak ada keterbukaan tidak transparan kami akan lanjutkan kasus ini ke jalur hukum, agar supaya hal ini bisa menjadi pelajaran untuk Pemdes yang lain," ucapnya.


Edy Sukirman wakil perwakilan warga masyarakat menyampaikan bahwa audensi ini kami merasa kecewa karena Kepada Desa tidak ada di Bale Desa.


Padahal sebelumnya kami sudah memberi tahu bahwa hari Senin 04/09/2023 kami mau adensi di dampingi oleh Ormas GMBI KSM Punggelan, setelah kami tanyakan kepada Pemdes katanya lagi ngater pengantin ke Kudus.


Kami cuman ditemui oleh Pemdes Tlaga Kasi Pemberdayaan dan Pemdes lainya, maka kami betul-betul kecewa luar biasa, kenapa mementingkan Nganter orang mbesan ke Kudus ini termasuk meninggalkan tugas sebagai kepala Desa.

Foto Ketua BPD Desa Tlaga 

Kami mencium aroma dana di selewengkan itu trutama anggaran yang untuk ketahanan pangan, yang di anggarkan 30% dari dana Desa sebesar 260 juta lebih.


Katanya untuk bikin kolam ikan, juga untuk membeli kambing, teryata kolam ikan juga seakan-akan tidak dipelihara ikannya cuman berapa ekor, kambing yang katanya jumlahnya 50 ekor sekarang cuman ada 17 ekor itupn sama anaknya satu.


Makanya kami sebagai warga masyarakat ingin adanya keterbukaan dalam pengelolaan dana Desa, juga kamipun bertanya kenapa di tempatkan di bengkok Kades, apa tanah itu di hibahkan, apa di sewakan, apa bagai mana?

Tuntutan kami dari warga masyarakat cuman menurut keterbukaan kepada masyarakat dalam anggaran desa ini,  dan seringnya kalau perencanaan kita di kasih tahu tapi kalau pelaksanaan tidak dikasih tahu ada apa dibalik itu?. Ungkapnya.


Muhrodin Kasi Pemberdayaan ketika di wawancarai oleh awak media membenarkan bahwa lahan yang dibuat kolam itu tanah bengkok  Kepala Desa.


Dalam pembuatan melibatkan pekerjaan yang dibayar perharinya Rp. 70.000,- / hari dan saat ini dikelola oleh Daryono Warga Masyarakat.


Ketika awak media menyakan kenapa Kepala Desa tidak menemu audensi tersebut katanya tidak tahu dan saya juga tidak dikasih tahu, sehingga Kepala Desa pergi ke Kudus Kondangan," Pungkasnya.


Tidak cukup disiti Kami dari media menemui Ketua BPD Desa Tlaga Sukirno, ketika dikonfirmasi menuturkan bahwa  saya tahu dari orang-orang bahwa ada program ketahanan pangan yang di gunakan untuk penggemukan kambing dan kolam untuk budidaya ikan.


Tapi saya tidak tahu berapa jumlah kambing yang dibeli dan harganya berapa saya juga tidak tahun dan tidak dikasih tahu juga, termasuk kolam ikan ada berapa kolam dan ikan apa yang dibudidayakan, jadi intinya saya tidak tahu dan tidak dikasih tahu," pungkasnya.


Kepala Desa Tlaga sementara belum bisa di konfirmasi karena lagi di luar kota. 

Pewarta. Tim Media

Editor: Nur S

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama