STIKES BINA CIPTA HUSADA PERKUAT KERJASAMA LUAR NEGERI

 


Banyumas, wartaindonesianews.co.id -- Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bina Cipta Husada Banyumas terus melaju menjadi perguruan tinggi yang membangun jejaring dengan institusi luar negeri. Kampus ini memiliki tiga program studi yaitu D-3 Kebidanan, D-3 dan S-1 Farmasi, S-1 Kesehatan masyarakat, dan D-4 Teknologi laboratorium medis. Direncanakan Jumat, 12 Juli 2024 bertempat di auditorium akan dilangsungkan penandatanganan perjanjian Kerjasama Pendidikan dan riset dengan Waku Pro Japan yang berbasis di Hiroshima University di Jepang.


“Insaa Allah dengan penandatanganan nota kesepahaman kerjasama ini kampus kami akan sering berkegiatan yang melibatkan nara sumber dari negara maju, Jepang. Seperti dua pekan mendatang sebagai implementasi Kerjasama, insaa Allah kita akan menggelar Kuliah Umum Pakar Luar Negeri dengan pembicara Kosuke SHIMADA dan Dr Tuswadi dari Hiroshima University,” jelas Gia Budi Satwanto, SE, SH, MH, Ketua STIKES.


Waku Pro adalah sebuah lembaga riset di bawah payung sejumlah universitas besar di Hiroshima Perfecture seperti Hiroshima University, Hijiyama University, dan Hiroshima Perfecture University yang didirikan pada tahun 2003. Adapun penyandang utama dana lembaga ini adalah Mazda Corporation, sebuah perusahaan besar automobile di Jepang.


Di Jepang sendiri, Waku Science Pro sangat agresif dalam melakukan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset. Salah satu program andalannya yang selama puluhan tahun berlangsung di Hiroshima University adalah “Professor Goes to School” dimana pihak Universitas, Mazda Corporation dan pemerintah kota Hiroshima memfasilitasi pemberangkatan Profesor bidang Science untuk mengajar di sekolah-sekolah dengan kebutuhan khusus sesuai data dari pihak Dinas Pendidikan kota Hiroshima.


“Dalam setahun akademik, saya sedikitnya memberikan pembelajaran sedikitnya di 17 sekolah dasar dan menengah di sekitar kota Hiroshima dimana para guru ikut serta menyaksikan proses pembelajaran yang saya lakukan diikuti dengan diskusi untuk peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran di sekolah (in-service-teacher training). Pada tahun 2015 topik pembelajarannya adalah pendidikan mitigasi bencana tanah longsor yang terintegrasi dengan mata pelajaran Science di SD dan SMP. Ini dilakukan karena pada tahun 2014 kota Hiroshima dilanda bencana alam dan menelan sedikitnya 70 jiwa,” jelas Profesor Hayashi Takehiro, Kepala Waku Pro melalui sambungan telepon.


Sementara itu menurut Dr Tuswadi, Executive Committee Member Waku Pro, melalui Kerjasama ini pihak STIKES Bina Cipta Husada berkesempatan mendatangkan para guru besar dari Jepang untuk seminar, kuliah umum, atau memperkuat Program Pengabdian Masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi terfokus pada peningkatan kapasitas guru dan pendidik dalam pendidikan tanggap bencana. Terbuka kesempatan juga menerima pertukaran mahasiswa Hiroshima University untuk “Short Visit” ke STIKES Bina Cipta Husada sehingga aura internasionalisasi kampus makin ketara. 


Dr Tuswadi yang juga anggota Kehormatan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), menambahkan bahwa pada Overseas Guest Lecture di STIKES dirinya dan Kosuke SHIMADA akan mempresentasikan praktik baik pelayanan kesehatan bagi masyarakat oleh pemerintah Jepang yang sangat bagus manajemen dan mutunya sehingga derajat kesehatan masyarakat Jepang terjamin.


“Jepang salah satu negara dengan populasi tersehat dan salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia. Negara ini mempunyai salah satu angka kematian bayi dan angka kematian ibu terendah. Tiga penyebab utama kematian di Jepang adalah penyakit yang berkaitan dengan usia seperti neoplasma ganas, penyakit jantung, dan penyakit cerebrovascular. Namun, angka kematian akibat penyakit jantung adalah yang terendah di antara negara-negara OECD, yaitu sekitar 30,4 kematian per 100.000 penduduk,” jelas Dr Tuswadi.


Katanya lebih lanjut-setiap warga negara Jepang berhak mendapatkan perawatan medis melalui layanan kesehatan universal dengan cakupan hampir 100 persen, dan biaya pengobatan diatur secara ketat oleh pemerintah. Minimal 70 persen biaya perawatan kesehatan ditanggung oleh asuransi kesehatan yang disediakan oleh pemerintah atau pemberi kerja. Sisanya yang 10 hingga 30 persen biasanya dibayar oleh pasien, bergantung pada status keuangan individu.


Pewarta: Sri Nuraeni 

Editor: Nur S 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama