Wonosobo, wartaindonesianews.co.id --Program makan siang bergizi secara gratis yang menjadi salah satu program unggulan Pemerintahan Prabowo-Gibran mendatang layak diapresiasi Ketika semua itu dilaksanakan melalui kajian mendalam termasuk tata cara pelaksanaannya sehingga bukan urusan perut semata.
Dua ilmuwan yang tampil memberikan “Academic Talk” di Madrasah Ibtidaiyah Maarif Kliwonan di kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah pada Rabu 4/9/2024 merekomendasikan adopsi praktik baik program makan siang seperti yang berlaku di sekolah Jepang.
Dr FUJIKAWA Yoshinori, peneliti Waku Pro Hiroshima University Bersama Dr Tuswadi, anggota kehormatan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) menuturkan bahwa Program Makan Siang telah lama diimplementasikan di sekolah negeri sakura misalnya di sekolah dasar seantero Jepang.
Namun demikian makan siang bukan sembarang makan siang dimana pemerintah melalui Kementrian Pendidikan telah memberikan rambu-rambu pelaksanaan program makan siang menjadi sebuah pembelajaran dan pendidikan karakter yang terbukti efektif membangun generasi Jepang yang jujur, disiplin, gotong royong, cinta kebersihan dan kerapian, dan nilai-nilai luhur lainnya.
“Makan siang itu gampang tinggal anak-anak disajikan menu makan siang; tetapi bukan itu semata tujuan makan siang di sekolah. Terdapat pembiasaan implementasi nilai-nilai luhur bangsa Jepang sebagai negara yang maju dan punya marwah tinggi,” jelas Dr FUJIKAWA.
Dr Tuswadi menjelaskan bahwa ada beberapa rambu-rambu Program Makan Siang di sekolah Jepang. Pertama, menu makan siang diatur oleh Dinas Pendidikan Kota. Pemerintah lokal menunjuk perusahaan penyedia makan siang (catering) secara selektif dan ketat sehingga tidak terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dan perusahaan tersebut harus patuh dan taat pada aturan-aturan dalam jasa pennyediaan menu makan siang yang bergisi sesuai harga yang sudah disepakati.
Menu makan siang dibuat bervariasi setiap hari sesuai rekomendasi para ahli gizi sehingga bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Jepang secara keseluruhan. Biaya program makan siang dibayar oleh orang tua/wali peserta didik dan mendapatkan subsidi dari pemerintah sehingga murah tetapi tetap bergizi.
Ada anak yang bertugas membawa makanan dengan troli dari dapur ke dalam kelas dengan ketentuan harus hati-hati dan rapi, tidak boleh terjatuh; ada anak-anak yang bertugas membagi nasi, sayur, dan lauk yang tersedia supaya cukup ke dalam piring dan mangkok setiap anak sehingga mereka belajar ketelitian dan kejujuran dalam membagi; ada anak-anak yang bertugas menyajikan makan siang yang sudah ditata di atas baki ke setiap meja peserta didik sambil mempersilakan teman-temannya siap makan dengan cara yang sopan dan santun, di sini anak belajar melayani dengan tulus dan rapi; ada anak yang bertugas memimpin doa awal dan akhir makan serta membacakan daftar gizi yang terdapat di menu makan siang setiap harinya sehingga anak belajar bersyukur dan berterima kasih serta paham dan sadar gizi dalam mengkonsumsi makanan sejak dini.
Selesai makan, anak-anak berbagi tugas membersihkan peralatan makan sehingga semuanya bersih dan rapi seperti semula. Barulah kemudian seluruh peserta didik bekerja bakti harian membersihkan ruang kelas, teras, dan lingkungan sekolah termasuk toilet sampai benar-benar bersih, rapi, dan indah didampingi oleh para guru. Tidak ada petugas keberihan atau tukang kebun di sekolah dasar Jepang. Kebersihan, kerapian, dan keindahan sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah, guru, dan peserta didik semuanya.
Ruh Dihidupkan Melalui Makan Siang “Jadi makan siang di sekolah Jepang benar-benar menjadi wahana pembangun karakter generasi Jepang di bawah pendampingan segenap guru yang benar-benar paham tata cara mendidik anak-anak,” jelas Dr Tuswadi.
Hati dan jiwa anak terpoles menjadi hati dan jiwa yang tahu berterima kasih karena di awal dan di akhir kegiatan makan siang mereka berdoa ala kepercayaan mereka dengan ucapan “Itadakimasu” di awal dan “Gocishousamadesta” di akhir makan sebagai bentuk syukur dan terima kasih. Tidak boleh ada sisa makanan sedikitpun sebagai bentuk tidak menyia-nyiakan kerja petani dalam menyediakan bahan pangan dari menanam sampai panen.
Demikian pula kejujuran, kesabaran dalam melayani, ketelitian dalam melakukan semua kegiatan yang berhubungan dengan makan siang, paham nilai gizi, benar-benar terbentuk sejak dini sehingga setelah dewasa generasi Jepang semuanya menjadi generasi yang unggul berkarakter.
“Saya sebagai guru dan pendidik tentu mendukung Program Makan Siang Bergisi Gratis yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran mendatang, tetapi tolong agar program tersebut benar-benar tepat sasaran, bebas dari perilaku korupsi para oknum pejabat-pejabat yang suka memakan dana rakyat, serta Kementrian Pendidikan harus menerbitkan peraturan terkait SOP Program Makan Siang di Sekolah agar mampu memberdayakan sekolah untuk lebih tepat dalam mendidik generasi Indonesia menjadi insan-insan berkarakter dan unggul seperti dicontohkan oleh Jepang,“ tandas Dr Tuswadi, ilmuwan bidang pendidikan kebencanaan yang sangat mengharapkan pemerintah mendatang benar-benar memperhatikan pembangunan pendidikan secara berdaya guna dan bebas dari perilaku korupsi di segala lini.
Pewarta: Sri Nuraeni
Editor: Nur S
Posting Komentar